orang mungkin susah untuk berhenti merokok, entah apa penyebabnya. orang bilang ketagihan, mencandu kalo bahasa kasarnya. padahal banyak orang sudah tahu bahaya yang ditimbulkan, sudah tahu juga banyak korban yang berjatuhan. termasuk juga saya, yah… memang sangat disayangkan. banyak uang sudah saya buang untuk membeli tembakau berlapis kertas papir tipis yang terkadang beraroma cengkeh nikmat. sampai saatnya di suatu pagi batuk saya dirasa sangat parah, dan mulai pagi itu saya berikrar “saya mau berhenti merokok”
Sejak SD kelas 5 saya sudah teracuni oleh asap rokok, kala itu usai pertandingan sepak bola antar kelas di sebuah lapangan di jakarta selatan. saat teman saya merokok, sayapun berniat untuk mencoba. he… rokok kretek bernomor 234 pun saya bakar dan saya hisap. badung memang saya, SD sudah merokok. tapi itu kala pertama dan saya belum merasakan kenikmatan yang ada. sampai saat saya kelas 2 SMP baru saya aktif merokok, ah.. badung…
bapak saya perokok berat, sehari bisa sampai 2 bungkus rokok kudus beliau habiskan, begitu pula kakak tertua saya. jika sudah di depan monitor komputer untuk bermain game bisa berpuluh-puluh puntung rokok disisakan di asbak pribadinya. dan sayapun terkena imbasnya.
Saya merasakan ketagihan saat SMU, di saat semua teman-teman nongkrong saya adalah perokok. tapi tidak seberat bapak atau kakak saya. sehari tidak sampai sebungkus rokok putih saya habiskan. sebungkus bisa sampai berhari-hari baru habis. selain itu saya pun cukup peduli dengan sekitar, terlebih terhadap orang lain yang saya rasa tidak suka dengan asap rokok tidak pikir panjang saya langsung matikan rokok saya. apalagi di hadapan wanita, hampir tidak pernah saya merokok.
efek rokok mulai saya rasakan setelah saya kuliah semester akhir… radang tenggorokan saya rasakan setiap saya merasakan tidak enak badan, termasuk tidak enak badan kemarin. bodohnya saya, saya masih terus merokok sampai di Jogja kemarin. tapi perlu diingat, saya berniat untuk berhenti merokok bukan karena iklan di televisi atas website bahaya merokok, bukan pula poster yang tertempel di puskesmas yang menggambarkan banyaknya racun yang terkandung di dalam sebatang rokok, apalagi karena rencana MUI yang akan mengeluarkan fatwa haramnya merokok. saya berniat untuk berhenti merokok murni karena keinginan saya, he… mungkin Tuhan sudah menyentil saya lewat penyakit saya tempo hari. terima kasih Tuhan sudah diingatkan.
buat semua, mohon dukungannya….
Categories:

