siang tadi sebelum makan siang, di kantor pusat lantai 3 diadakan presentasi dari pemasok o-ring di pabrik kami. termasuk familiar di telinga saya, baik bentuk dan kegunaannya. bahkan beberapa rekan saya menggunakan o-ring bekas sebagai gantungan kuncinya. yah, yang namanya bekas tentu saja sudah tidak terpakai lagi. dilihat dari bentuknya yang sederhana dan warnanya yang hitam memang benda ini tidak cocok digunakan untuk hiasan. he… harganya saja selangit, bisa mencapai 1,5juta rupiah sebuahnya. pikir-pikir dah kalo membelinya cuma untuk dibuat gantungan kunci.

Untuk yang tidak mengenal o-ring ya tidak apa-apa, tidak penting juga kok buat kehidupan kalian, kecuali anda seorang mekanik seperti saya. o-ring adalah seal berbentuk cincin dengan cross section lingkaran yang terbuat dari karet dengan cara dicetak. ini kata pemasok o-ring itu, kalo tidak percaya bisa di cek di wikipedia atau kamus-kamus lainnya. apakah harus berbentuk cincin? ya-iyalah namanya juga o-ring, kalo bentuknya lingkaran pipih dari beling namanya pi-ring. cross sectionnya harus lingkaran? iya dunk, soalnya ada yang bentuknya menyerupai huruf “x” yang ini dinamakan x-ring, kalo huruf “u” u-ring, tapi kalo huruf “g” ga ada, soalnya ga-ring. kenapa harus terbuat dari karet? pemasoknya bilang kalo dari besi namanya bukan o-ring, itu seal, tapi bukan o-ring. hm… kaku banget yah, harus dari karet… dicetak lagi, kayak duit aja.
Agar tidak terjadi miss-understand (tulisannya bener ga sih nih? artinya jorok deh nih kayanya, miss=perempuan, under=bawah, stand=berdiri. he.. pokoknya artinya salah-paham lah!!) diperlukan persamaan persepsi, dalam hal ini pengkodean nama barang yang dibutuhkan. agar barang yang dibutuhkan kami para mekanik sebagai user tidak disalah artikan oleh pengadaan sebagai pembeli dari pemasok. kode ini sesuai standard internasioal penamaan, contohnya adalah sebagai berikut:
120 x 7 NBR 70 AED
120 x 7 di sini adalah dimensi atau bahasa kerennya ukuran dari o-ring tersebut 120 merupakan Inner Diameter (ID) dan 7 merupakan ukuran ketebalan o-ring atau cross section-nya (CS) dan semua ukuran dalam satuan milimeter. trus, gimana ngukurnya? ya diukur lah manual.. pake penggaris. ada sih alat bantu ngukur ID o-ring, tapi ya itu… harus beli…
Lha NBR itu apa? itu adalah bahan pembuatnya. ada beberapa jenis, diantaranya adalah: NBR, Viton, EPDM, Silicone, Chloroprene dan masih banyak jeni-jenis karet yang lainya. tapi tidak semua karet digunakan sebagai bahan pembuat o-ring, kalo semua karet dipake buat o-ring nanti abis dung karetnya, lha buat karet pengaman pake bahan apa??? penggunakan material pun tergantung dari fluida yang di-handle. tergantung temperaturnya, sifat kimianya, dan juga tergantung tekanan aliran yang di seal. bahkan viton yang konon harganya lebih mahal belum tentu lebih tahan terhadap sifat kimia tertentu di mana NBR mampu meng-handle-nya. yah.. intinya, cari yang pas lah…
angka 70 menandakan kekerasan (hardness) o-ring tersebut. semakin besar angkanya menandakan tingkat kekerasan o-ring tersebut semakin tinggi. hardness ini pun harus dipas-pasin sama kegunaannya. untuk o-ring sebagai seal dinamis digunakan yang angkannya lebih rendah, contohnya adalah o-ring pada piston, hidrolik, atau pada valve. sedangkan yang statis digunakan o-ring dengan angka kekerasan yang tinggi, seperti pada seal pompa, kompresor, atau sambungan-sambungan lain yang sifatnya tetap atau statis. tingkat kekerasan diukur dengan skala shore A, yaitu skala kekerasan untuk rubber. contohnya adalah seperti ini:
60, 70, 75, 80, 85, 90, 95 (shore A)
di mana 60-75 dikatakan lunak, dan 90-95 dikatakan keras. bagaimana yang diantaranya? yah… sedang-sedang saja…. kalo punya saya berapa shore A ya kira-kira?
Lalu yang 3 huruf terakhir? itu menandakan o-ring tersebut digunakan untuk kondisi tertentu (special application) AED itu Anti Explosive Decompression, ada juga yang diberi kode FG, yaitu Food Grade yang artinya o-ring tersebut penanganannya higienis dan terbukti lewat sertifikasi.
Yang terakhir dibahas adalah masalah penyimpanannya, dalam penyimpanan harus diperhatikan suhu tempat penyimpanannya (15-35) kelembabab maksimum pun menjadi faktor penting (maks 65%) dan yang paling krusial adalah efek sinar matahari, khususnya sinar ultra violet. untuk material non logam memang radiasi sinar ini harus sangat diperhatikan karena terbukti memperpendek umur material. oleh karena itu dalam penyimpanannya o-ring tidak boleh terkena sinar matahari langsung, bahkan lampu T-L yang konon pancarannya memiliki radiasi sinar ultra violet walau dalam jumlah yang relatif kecil disinyalir mampu merusak material ini, lagi-lagi ini kata sang pemasok yang diiyakan oleh boss saya. hmm… saya sih percaya. terus bagaimana dengan lampu petromak, lampu tempel atau cahaya lilin? ah… no komen!!
kira-kira demikian ilmu yang saya dapat dari sang pemasok, he.. terima kasih atas ilmunya. snack-nya juga enak…. dan tepat pukul 1200, waktunya makan siang tiba. saya ditelepon oleh rekan saya, ternyata di pabrik ada tumpengan. makan… makan….
Categories:

