Sempat ada kekhawatiran dalam hati saya saat seorang rekan di pabrik memberitahukan kondisi pertiketan (bahasanya asal beuth..) kereta api dalam negeri menjelang mudik hari raya Idul Fitri. Mengutip pemberitaan di televisi rekan saya memberitahukan bahwa tiket Jakarta-Surabaya sudah habis. Saat itu tanggal 28 Agustus 2008. Deg! tiba-tiba saja dada saya terasa berat. rasa khawatir berubah menjadi rasa takut, belum lagi kondisi saya yang pada saat itu sedang tidak punya uang. seharian saya hanya bisa diam, sempet menanyakan ke nyonya tercinta lewat pesan singkat (sebenarnya hanya untuk membuat hati merasa lebih tenang saja) apa yang harus saya perbuat jika benar tiket kereta itu sedah habis ludes tanpa sisa…
Saya hanya bisa pasrah, rencana sebelumnya yang saya buat tidak lagi saya jadikan patokan. Jika memang tidak bisa mendapatkan tiket untuk tanggal 26 September 2008 tidak apa lah, toh masih ada tanggal 27, 28 dan selanjutnya. Setidaknya baru tanggal 29 saya menerima upah, dan baru tanggal 30 saya bisa membeli tiket. Beruntung di Gresik ada agen tiket penjualan kereta api yang bisa langsung dapat print-out-nya, di Swabina Gratra (kalau saya tidak salah, maklum kartu namanya ketinggalan di celana jeans saya) tempatnya.
Sabtu rada siang (karena memang bangunnya siang) saya kayuh sepeda mini berkeranjang saya menyusuri jalan raya Gresik yang panas, lokasi tepat pembelian tiket belum saya ketahui. hanya samar-samar saya dengar jika lokasinya itu berada tidak jauh dari Mc.D Gresik. Hmm…. Panasnya matahari tidak mampu menyurutkan semangat saya untuk mendapatkan tiket pulang kampung. ya, kampung saya di Jakarta. di saat orang lain mudik meninggalkan Jakarta saya malah menghampirinya. Bersyukur sebenarnya, setidaknya saya tidak ikut-ikutan berebut tiket pulang dengan para pemudik Jakarta lainnya, dan tidak ikut-ikutan bersaing dalam membeli tiket dari para calo yang harganya bahkan bisa mencapai 5 kali lipat dari harga normal. Buat para pendatang di kota Jakarta… “Selamat ya…”
Kembali ke sepeda saya, menyusuri jalan raya saya tiba di Mc.D dari sana saya ambil arah ke Surabaya. Ternyata apa yang terjadi saudara-saudara… sampai Wisma A.Yani saya tidak menemukan kata-kata “Swabina Gatra” sama sekali, saya simpulkan… saya nyasar (tapi untungnya tidak ke Zimbabwe). Kembalilah saya menuju Mc.D dan dengan terpaksa saya korbankan beberapa ribu pulsa saya untuk menghubungi salah satu rekan saya yang sudah berpengalaman dalam membeli tiket, mungkin mata pencaharian sambilannya adalah calo. Dengan sedikit arahannya akhirnya saya berhasil menemukan gedung itu. akhirnya…
Masuk ke ruangan ber-AC sangat melegakan, badan saya keringetan, ditambah saya membawa tas cukup berat yang berisi pakaian kotor yang saya rencanakan akan saya bawa ke tukang cuci plus laptie yang saya masukkan ke tas, sebab saya rencanakan juga untuk kongkow-kongkow di alun-alun sampai sore hari nanti. Di sapa oleh petugas wanita yang cukup ramah dan jika boleh dibilang manis saya langsung mengutarakan maksud dan tujuan saya ke sana. Membeli tiket kereta api tujuan ke Jakarta tanggal 26 September 2008, Sembrani. Setelah mengutak-atik komputer kerjanya petugas itu mengatakan bahwa tiketnya masih 11 biji. Fiuh… lega hati saya, seakan diguyur air satu bak mandi saat jalan-jalan di gurun. Saya langsung pesan satu yang dekat jendela (kalo bisa sampingnya wanita cantik luar biasa seperti Nia Ramadhani). Sekalian saya pesan tiket untuk kembalinya ke Surabaya, walaupun belum dijual tapi saya sudah pesan. takut kehabisan. dan nama saya sudah tercatat di dalam buku besar pemesan tiket kereta api untuk tanggal 5 Oktober 2008. tinggal telepon ke petugas manis itu…
Gembira ria saya rasakan, seperti mendapatkan tenaga baru saya bersemangat sekali mengayuh sepeda berkeranjang saya untuk segera menuju ke tukang cuci dan selanjutnya Wifi-an gratisssss……
nyak!!! aye mudik nyak!!!!
Categories:

