teringat pada saat saya ditanyakan oleh salah seorang direksi tempat saya bekerja, wawancara oleh beliau di ruangan luas ber-AC di meja besar dan kursi lipat kondangan.
“Kamu rumahnya di Jakarta kenapa mau kerja di Gresik? Bukannya di Jakarta banyak perusahaan besar yang bayarannya juga lumayan?”

Pertanyaan klise, dan saya sendiri sedikit bingung arah pertanyaannya. sambil terus-menerus menekan tombol off telepon genggam di saku celana panjang yang sudah lama bergetar. terus terang telepon genggam saya tidak henti-hentinya bergetar, bukan karena ada telepon masuk ataupun pesan singkat yang datang tapi memang kala itu telepon genggam saya baterenya sudah lemah, dan saat telepon genggam itu mati ia bergetar dengan hebatnya. yang saya tidak ketahui adalah alasan telepon genggam itu bergetar secara terus menerus, padahal walaupun masuk mode getar suara yang ditimbulkan masih bisa terdengar oleh telinga sekitar.
“Kalau pemikiran saya berbeda pak. menurut saya, kenapa harus bekerja di Jakarta jika bisa di luar Jakarta.”
ah… jawaban spontan, secara seketika hadir di dalam benak saya. Buah dari kekecewaan saya terhadap kesemrawutan ibu kota, kemacetan jalan raya, dan banyaknya manusia yang ada di sana. tidak saya sangka-sangka tanggapan dari sang penanya positif, meng-iya-kan jawaban saya, setuju “pemikiran pendek” pendapat saya.
jakarta sudah penuh, sesak, bernafas saja sulit…. tipe orang seperti saya sangat sedikit. lahir di jakarta, lantas mengais rejeki di bukan di “kota laknat” itu. he, laknat… julukan seorang teman saya terhadap keganasan ibu kota. ya, kebanyakan manusia mungkin lahir bukan di jakarta, tetapi mencari uang di kota megapolitan itu. sebagai contoh adalah teman-teman kuliah saya di Jogjakarta, banyak yang bekerja di jakarta. ada sekitar sepuluh, bahkan mungkin lebih teman saya yang bekerja di jakarta sekarang ini. logika sederhana, satu orang keluar jakarta (saya), sepuluh orang masuk jakarta (teman-teman saya). he…. semakin padatlah kota ini…..
bahkan teman-teman saya sekolah dulu ada yang bertanya,
“ngapain lo kis di Gresik? kaya ga ada kerjaan aja di jakarta?”
terpaksa saya utarakan gagasan idealis saya tentang ruwetnya jakarta, tentang kemacetan yang tidak kunjung reda di ibu kota indonesia itu, tentang waktu yang banyak terbuang di jalanan. dan saya sedikit berharap pikirannya terbuka. dan semoga semua orang mulai sedikit demi sedikit berpikir untuk tidak berbondong-bondang ke jakarta. apalagi tanpa ada tujuan pekerjaan yang jelas. dan buat para investor, kenapa anda tidak mengembangkan tempat lain? ah.. angan-angan semu, lagi-lagi idealisme yang bicara.
tidak ada yang bisa disalahkan, secara naluri segerombolan semut akan mendekati gula. sama saja dengan manusia, bedanya semut bisa antri dengan tertib. sedangkan manusia membutuhkan 21 nyawa untuk mendapatkan “gula” itu. hebatnya manusia, manusia indonesia khususnya.
pesan saya sederhana. tertiblah, disiplinlah, sabarlah, dan jagalah “kota laknat” itu, untuk kalian semua….
gambar dari sini…
Categories:

