Posted by: kishandono | 16th Sep, 2008

Alasan Saya

teringat pada saat saya ditanyakan oleh salah seorang direksi tempat saya bekerja, wawancara oleh beliau di ruangan luas ber-AC di meja besar dan kursi lipat kondangan.

“Kamu rumahnya di Jakarta kenapa mau kerja di Gresik? Bukannya di Jakarta banyak perusahaan besar yang bayarannya juga lumayan?”

monas


Pertanyaan klise, dan saya sendiri sedikit bingung arah pertanyaannya. sambil terus-menerus menekan tombol off telepon genggam di saku celana panjang yang sudah lama bergetar. terus terang telepon genggam saya tidak henti-hentinya bergetar, bukan karena ada telepon masuk ataupun pesan singkat yang datang tapi memang kala itu telepon genggam saya baterenya sudah lemah, dan saat telepon genggam itu mati ia bergetar dengan hebatnya. yang saya tidak ketahui adalah alasan telepon genggam itu bergetar secara terus menerus, padahal walaupun masuk mode getar suara yang ditimbulkan masih bisa terdengar oleh telinga sekitar.

“Kalau pemikiran saya berbeda pak. menurut saya, kenapa harus bekerja di Jakarta jika bisa di luar Jakarta.”

ah… jawaban spontan, secara seketika hadir di dalam benak saya. Buah dari kekecewaan saya terhadap kesemrawutan ibu kota, kemacetan jalan raya, dan banyaknya manusia yang ada di sana. tidak saya sangka-sangka tanggapan dari sang penanya positif, meng-iya-kan jawaban saya, setuju “pemikiran pendek” pendapat saya.

jakarta sudah penuh, sesak, bernafas saja sulit…. tipe orang seperti saya sangat sedikit. lahir di jakarta, lantas mengais rejeki di bukan di “kota laknat” itu. he, laknat… julukan seorang teman saya terhadap keganasan ibu kota. ya, kebanyakan manusia mungkin lahir bukan di jakarta, tetapi mencari uang di kota megapolitan itu. sebagai contoh adalah teman-teman kuliah saya di Jogjakarta, banyak yang bekerja di jakarta. ada sekitar sepuluh, bahkan mungkin lebih teman saya yang bekerja di jakarta sekarang ini. logika sederhana, satu orang keluar jakarta (saya), sepuluh orang masuk jakarta (teman-teman saya). he…. semakin padatlah kota ini…..

bahkan teman-teman saya sekolah dulu ada yang bertanya,

“ngapain lo kis di Gresik? kaya ga ada kerjaan aja di jakarta?”

terpaksa saya utarakan gagasan idealis saya tentang ruwetnya jakarta, tentang kemacetan yang tidak kunjung reda di ibu kota indonesia itu, tentang waktu yang banyak terbuang di jalanan. dan saya sedikit berharap pikirannya terbuka. dan semoga semua orang mulai sedikit demi sedikit berpikir untuk tidak berbondong-bondang ke jakarta. apalagi tanpa ada tujuan pekerjaan yang jelas. dan buat para investor, kenapa anda tidak mengembangkan tempat lain? ah.. angan-angan semu, lagi-lagi idealisme yang bicara.

tidak ada yang bisa disalahkan, secara naluri segerombolan semut akan mendekati gula. sama saja dengan manusia, bedanya semut bisa antri dengan tertib. sedangkan manusia membutuhkan 21 nyawa untuk mendapatkan “gula” itu. hebatnya manusia, manusia indonesia khususnya.

pesan saya sederhana. tertiblah, disiplinlah, sabarlah, dan jagalah “kota laknat” itu, untuk kalian semua….

gambar dari sini…

Responses

aku juga males hidup di jakarta.
dulu jaman KP pada rame2 ke sana, aku cari di solo aja.
waktu lulus pada rame2 cari kerja di sana,
ehm, aku nikah aja :D

jawaban yg simple tapi ngena hehehehe

terkadang memang kita menemukan jawaban sederhana namun menusuk disaat kita terdesak oleh pertanyaan yang tak disangka-sangka.. :)

aq jg lebih tertarik untuk tinggal di daerah , tp apa daya cari rezekinya di jakarta.. (^_^)

gw mah tetep ingin di jakarta!!! daripada kudu di hutan kayak sekarang!!! huhuhu

jawaban yang luar biasa…

sayah di Bogor ajah dah sesek lihat ruwetnya sekitar kampus apalagi lihat jakarta

saya juga males lama-lama di Jakarta….

jakarta terlalu crowded

Dibenci dan dicinta itulah Jakarta.. :)

keren pak jawabannya
tapi knp yah org² pengen banget ke jakarta?

weeeeh baru tau monas biru kayak gitu?

Sebetulnya dimanapun kita berada, semuanya akan mendapatkan yg namanya pengalaman dan resiko ;)

Siapa suruh datang Jakarta……..
^.^

Saya termasuk dari sekian bnyak org yang mencari peruntungan di kota laknant itu =)

jakarta panas, enakan di bandung, hehe…:D

daku ju9a salah sekian y9 terdampar dijakarta,kota y9 aku benci ee..malah disinilah aku hidup:)
tapi banyak hal y9 daku petik hikmahnya…

wew… sebuah pendapat yg luar biasa ….. :)

sebenarnya jakarta itu penduduknya sedikit…. liat aja pas lebaran (hari H) besok …. lengang, sepi, sunyi …….

itulah jakarta yg sebenarnya :)

tolooong…!!!, aku tenggelam di kota “laknat” ini

di bandung aja udah kayak di jakarta nich..

jadi gresik masih nyaman ya mas?
meskipun kota ini panasnya minta ampun…. :D

walaupun saya kerja di “hutan”, menurut saya ada sisi positifnya kerja and tinggal di Jakarta, dipaksa untuk punya jiwa bersaing yang tinggi, harus berani berkompetisi…

ho’oh…ngapain rebutan nasi di jakarta…mending di desa nasinya sisa-sisa…

welcome to my city…
maaf telat :)

Pindah ke jogja aja mas, di sini adem ayem saya tuh, barangnya murah murah lagi.

Setuju! Harus tertib, aman dan terkendali ya?

yah begitulah jakarta sebagai ibu kota, pusat segalanya, kebaikan dan keburukan…

Setuju Bro, jakarta semrawut. tidak berharap untuk sampai tua tetap kerja di Jakarta

di Jakarta ..waktu memang banyak terbuang di jalan. Gara-gara macet saja banyak yang berantem karena waktu selalu menjadi lelet… hhhhhh..

i’ll spend my whole life here, at least sampe saya pensiun nanti. salut buat keputusannya ninggalin jakarta.

gimana kalo kita pindahin aja ibukotanya ??
untuk mengurangi kemacetan ???

Ah… saya mah pilih jogja saja… ^_^

aku bercita-cita hidup di semarang tapi apa daya, ortuku di jakarta, akhirnya kita pindah ke depok. setidaknya lebih manusiawi daripada di jakarta, untungnya di depok masih banyak kerjaan, alhamdulillah :)

Awal lulus S1, penginnya kerja di Surabaya, biar tiap minggu bisa pulang kampung, tapi setiap melamar, selalu dikasih tahu bahwa melamarnya harus di kantor Pusat (Jakarta). Sempat juga sih mengalami penempatan di daerah (Sidoarjo, terus Yogya), tapi akhirnya malah menetap di Jakarta.

Jika terbiasa, Jakarta enak juga, asal bisa mengatur jadual.

membesarkan nggersik aja

Aku setuju banget ma keputusan dan argumen anda… Salut deh tnyata masih ada yang berpikir seperti ini…

Wah belum pernah sih hidup di Jakarta, tapi dah pernah ngerasain ganasnya ibukota pas mau cuti pulkam lewat Terminal bis dan di ancam sama porter suruh ngasih duit padahal barang saya bawa sendiri

Leave a response

Your response:

Categories